Ikhlas

Awal dialog kami di rumah biru dengan kang mas, karena saya nyolek dia dengan tulisan dari seorang sahabat… tulisan yang sangat bahkan teramat sangat saya sukai, saya kira semua yang membaca akan menyukainya,

Menatap Kembali Jejak Kita.

Kemarilah . . .

Bolehkan malam ini aku berada di sampingmu.

Bercerita semau hatiku. Dan engkau mendengarkannya?

Coba pikirkan, apa yang telah kita dapatkan dari perjalanan umur kita?

Apakah yang telah kita dapatkan untuk kehidupan abadi nanti?

Ah, rupanya tak banyak. Bahkan aku sangat khawatir kita tak memiliki apa-apa.

Selama ini hatiku disibukan oleh ini itu. Entahlah, apakah itu termasuk

kebaikan yang dicatat oleh malaikat, ataukah memang tangan dan hatiku

disibukan oleh Tuhan, namun tak mendapatkan keberkahan dariNya.

Kekasihku . . .Sudah saatnya kita menatap kembali jejak langkah yang telah kita tinggalkan.

Terukirkah keikhlasan di sana? Benarkah arah yang kita tuju? Ataukah kita hanya

sekedar berjalan, namun kaki ini melangkah menjauhi akherat nan kekal abadi?

Satu yang sangat kukhawatirkan saat ini, Kekasihku. 

Hatiku. Betapa sulitkah keikhlasan bersemayam di hati ini?

Tetapi bukankah Alloh menceritakan hamba-hambaNya yang ikhlas dalam penghambaannya kepada Dia Yang Maha Agung? Itu menandakan bahwa keikhlasan itu dapat kita miliki meskipun termasuk barang yang amat langka. Hatiku ingin memilikinya. Memilikinya.

Sebenarnya aku sendiri belum mengerti makna ikhlas.

Aku hanya mencoba di setiap pekerjaan yang kulakukan diniatkan karena Alloh.

Tulus setulus-tulusnya. Murni semurni-murninya karena Ia semata.

Tidak dicampuri yang lain.

Bukankah selain Alloh adalah makhluk?

Berharap kepada selain Alloh sama saja menjatuhkan diri ke jurang yang dalam tanpa tahu dasarnya. Apakah yang dapat manusia berikan kepada kita? Tak ada. Apa yang kita dapatkan untuk kehidupan ini dari manusia. Tak ada. Maka sia-sialah semua yang kita kerjakan bila tak mendapatkan keridhaan dariNya.

Kemarilah lebih dekat lagi . . . Duhai Kekasih hatiku . . . .

Dengarkan, hatiku berkata . . .

Setiap jenak waktu yang kita lalui , denyut nadi, berputarnya bumi, silih bergantinya siang dan malam, warna-warni yang dilihat oleh mata, suaranya yang didengar oleh telinga, setiap huruf yang kita baca_ tidak satupun darinya kecuali ciptaan Alloh. Karena semuanya ciptaan Alloh, maka semuanya hanya bisa “hidup” semata-mata karena Alloh. Semuanya hanya bergantung kepada Alloh. Bila Alloh berkehendak menghentikan untuk “menghadirkannya” di hadapan kita_ maka sungguh Ia tiada merasa berat sedikitpun. Seperti Ia melenyapkan dunia dalam mimpi. Meskipun kita memiliki mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, tubuh, kepala untuk berpikir _ namun ketika Alloh melenyapkannya maka lenyaplah semua mimpi itu. Betapa mudahnya.

Apakah yang dapat kita harapkan dari makhluk yang tiada daya dan upaya?

Dari sinilah kita mesti mengagungkanNya karena Dialah Yang Maha Agung.

Kita sudah seharusnya ikhlas dalam menjalani penghambaan ini, karena kepada siapa lagi kita menunjukan rasa ikhlas kita kecuali hanya padaNya? Bukankah yang lain dapat lenyap sebagaimana lenyapnya mimpi-mimpi kita. Hanya wajahNya yang kekal.

Meskipun berat bagi kita untuk belajar mengikhlaskan penghambaan ini,

tetaplah belajar. Ingatkan diriku. Jangan pernah bosan. Aku berharap amal kita yang sedikit dapat tertutupi dengan keikhlasan.

Riya’ dan sum’ah adalah salah satu ujian untuk mengetahui apakah hati ini ikhlas ataukah tidak . . .

Sampai di sini dahulu, Kekasihku.

Alloh sedang Menatapku, menatap kita berdua. Maka hadirkanlah hati kita hanya untukNya.  

Hatiku menyayangimu . . . 

Nürnberg, 24.11.201

*Ielva*

—————————- // ——————

Lalu kang mas memberikan komentarnya :

“wow…cool,

(kata orang, ikhlas itu ibarat akar,
menguatkan tanpa perlu kelihatan;
kata orang pula, 
ikhlas itu buah kedewasaan,
beramal tanpa pamrih; tidak besar diri karena puji;
tidak sakit hati karena kurang dihargai;
tapi berpuas diri dengan ridho Ilahi)

Moga Allah menganugrahi ikhlas hati
dan memberkahi kita berdua.
Liebe Dich sehr. 
(abdi ikhlas da…)”

Saya hanya bisa tertawa membaca kalimat terakhir dia, lalu saya sambung lagi komentar dia… “dear Papa..kata orang, jika ikhlas diutarakan, maka nilai keikhlasannya itu masih perlu dipertanyakan lhooo… :D”

Lalu dibalas kembali komentar saya ini :

“aber..aber..ich muss es sagen….!!  (tapi…tapi… saya harus bilang..)

Dan komentar terakhir dari dia yang semakin membuat saya tertawa ..

Aaahh…Uhibbuka fillah, lillah… Papa.. >3

Nürnberg, 18.04.2013

78 thoughts on “Ikhlas

    • Lha mas Trinya belum pulang, belum sampai, jadi belum ditanya dulu apa punya kembaran terus dipisah?😀

      Aahhh..yang lebih baik dan mungkin jauh lebih baik dari mas Tri banyak Non… inshaAllah bertemu dengan imam yg sesuai dengan yang Non harapkan..pokonya yg terbaik…aamiin.

    • Yang sering nulis pakai bhs Jerman mah mas Tri, teteh suka bilang tapinya
      “terjemahin dooong.”
      masa dapat surat/email mesti pake kamus atau penterjemah..

      Ayooo belajar bareng-bareng atuuh.

    • Alhamdulillah… bade kimaha deui atuh.. tebih ti kulawargi anu sanes, nya kedah bagja ktu.. hatur nuhun parantos “calik” sakedap di rorompok anu sederhana🙂

  1. Sebenarnya segan mau mengganggu keromantisan ini, tapi sekadar mengabarkan bahwa hari ini, tadi pagi tepatnya, ust. Jefry al Bukhori (UJE) telah wafat dan akan disholatkan srbentar lagi, ba’da sholat jum’at. SELURUH STASIUN TV menyiarkannya secara langsung, teh. Innalillahi wa innailaihi rooji’uun

    • Innalillahi wa innailaihi rooji’uun…
      Iya saya dengar dan baca kabarnya…semoga beliau ditempatkan di tempat yang mulia di sisi Allah SWT..aamiin.

      Satu pelajaran berharga yang kita dapatkan hari ini, aahhh persiapan apa yang sudah saya lakukan selama ini? T_T
      Ngga apa-apa mbak Prita… silahkan mampir dan mau menyampaikan apa saja disini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s