Tidak perlu iri

Bismillahirrohmanirrohim

“Maaa….beli “talenan” dong” itu rengekan anak-anak beberapa tahun lalu. Talenan..?? Itu sebutan saya untuk menyebut salah satu jenis Tablet bergambar Apel krowak 😀

Dipenuhikah rengekan mereka..?? Ooh tentu saja tidaaaak hehe bukannya pelit sih, tapi ada alasan mendasar yg tetap saya pegang sampai saat ini mengapa saya ndak mau belikan itu Talenan.

Awal ceritanya begini, *sibak ujung kerudung*
Sudah menjadi pemandangan biasa kalau kita-kita kumpul plus keluarga, anak-anak mereka sering membawa si talenan, ya ndak cuma bergambar Apel krowak saja sih, macem2 lah.
Saya perhatikan mereka anteng ikut anak lain ketika sedang main, dan sudah sering terpikir juga sih dibenak saya untuk beli talenan, buat emaknya maksudnyaaa biar bisa nyantei tiduran sambil baca dll..dll..hehe
Tapiiiii lama-lama anak-anak merengek seperti di atas tadi, “beli doong maaa…” Lalu saya tanya “buat apa talenan?”
“Ya buat main game laaah Maaa” jawab mereka kompak.
“Aaah main game mah di laptop aja atuuhh..” jawab saya kemudian.
“Waah Leptop mah berat ngga enak, ngga praktis maaa” protes mereka, naah kalimat berikutnya yang keluar dr anak-anak saya yang bikin saya sampai sekarang emooh beli itu Talenan,
“Yaaaah mamaaa…masa yang lain punyaaaa… kita ngga punyaaaa..!!”

Sambil tarik nafas panjang lalu saya bilang “apakah setiap apa yg dimiliki orang kita harus punya..?? Itu iri namamya, Apakah kalian malu ndak punya tablet?” Mereka hanya diam, lalu lanjut saya “Coba bayangkan, betapa capenya hidup kalian jika mengejar apa yg harus dimiliki karena melihat orang lain memiliki sesuatu yang tidak kalian miliki..??
Mama paling tidak suka kalian punya sifat iri hati dengan benda yg dimiliki orang lain, tp jika iri melihat seseorang yg pintar dan berusaha untuk pintar seperti dia itu bagus”
Kalau kalian iri terus, nanti ndak bisa bersyukur atas apa yang sudah diperoleh, padahal Allah menyukai orang-orang yang pandai bersyukur”
Mereka hanya mengangguk-angguk, ntah ngeh ntah ndak. Lalu saya memberi contoh lagi “coba lihat saudara kalian yang kadang makan pun seadanya, ndak cukup uang buat bisa sering makan seperti kalian, dan coba perhatikan, mereka ngga ngeluh khan..?? Ngga merengek2 minta ini itu..??”
“Kalian harusnya bersyukur, meskipun kalian ndak punya tablet, tp masih punya laptop, kalau sekedar untuk main game, ada Nintendo juga, sooo perlukah kita beli tablet..??”
Akhirnya mereka pun bilang “okeee mama.. wir brauchen kein tablet mehr” (ok mamaa.. Kita ngga perlu tablet lagi deeeh)
Alhamdulillah.. Semoga saja pelajaran kecil ini tetap tersimpan dibenak mereka, saya tidak mau mereka kelak membusungkan dada hanya sekedar menunjukkan “niih saya juga bisa punya seperti yang kalian miliki, bahkan lebih bagus dr kalian”

Jadi mungkin keluarga kamilah disini satu-satunya yg ndak punya talenan, dan saya bangga karena anak-anak tidak menjadi malu karenanya.
Alhamdulillah… 😊

Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang rendah hati dan pandai bersyukur..aamiin.

Oh ya ada status seorang teman di rumah biru yg bertanya “kira-kira anak usia 2 tahun sudah boleh dikasih Tablet ngga yaaa…??”
Lalu saya komentarin begini :
“Lebih baik jangan, bukan apa-apa sih, tablet cocoknya untuk usia 6 thn keatas, karena usia 2 thn belum bisa nelen tablet tapi beri saja sirup”
Daaaan dia tidak membalas komentar sayaaaaaa….!!! Huwaaaaa…

Nürnberg, 040214